Tidak Pernah Jarang Kadang Selalu (2020): Kerasukan Tubuh dan Kekerasan Seksual

Secara umum, tubuh perempuan telah lama diartikulasikan secara sepihak oleh laki-laki di berbagai lapisan masyarakat. Melalui Tidak pernah Jarang Kadang-kadang Selalu (2020), Eliza Hittman meruntuhkan pandangan tersebut dan menegaskan bahwa perempuan memiliki hak penuh atas tubuhnya sendiri, termasuk masalah aborsi. Di sisi lain, kekerasan seksual terus mengancam perempuan.

Tidak pernah Jarang Kadang-kadang Selalu merupakan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi perempuan. Serupa dengan kenyataan, ada kekerasan seksual yang terus-menerus mengancam perempuan. Kondisi ini dirasakan oleh tokoh utama, Autumn (Sidney Flanigan). Bahkan, adegan awal dibuka dengan adegan di mana dia dicaci maki di depan umum dan tidak ada yang membelanya. Selain itu, tidak ada kesempatan baginya untuk mengadili para pelaku dan menegakkan keadilan.

Di adegan selanjutnya, film tersebut merekam perjalanan Autumn ke New York untuk melakukan aborsi di usia remaja. Dalam “keputusasaannya”, dia ditemani oleh sepupu perempuannya, Skylar (Talia Ryder), yang masih seumuran dengannya. Setelah mengetahui rahim Autumn tumbuh, Skylar setuju untuk menemani sepupunya ke New York dengan uang curian dari toko tempat mereka bekerja. Dalam film ini, hanya Skylar yang mengerti Autumn. Pada akhirnya, mereka berdua pergi tanpa izin orang tua mereka dengan naik bus dan menggunakan sedikit uang.

Selama perjalanan ke New York, mereka mengalami pelecehan yang tampaknya tidak berbeda dari pengalaman mereka sebelumnya di lingkungan mereka di Pennsylvania. Bayangkan dalam keadaan hati yang begitu kalut dan hancur, Autumn melihat Skylar “memberikan” tubuhnya kepada seorang pria tak dikenal demi uang untuk bertahan hidup di New York. Lingkungan baru menjelma menjadi ancaman yang mengerikan dan menyiksa mereka berdua.

Sementara itu, fokus film ini tidak fokus pada upaya mencari ayah dari bayi tersebut dan berusaha meminta sang ayah untuk mengenali bayi tersebut. Kisah ini menggambarkan kondisi psikologis yang dirasakan Autumn, mulai dari ketidakpercayaannya terhadap hasil tes kehamilan, upaya menerima bahwa dirinya hamil, hingga keputusan untuk menggugurkan kandungan. Dengan deskripsi yang begitu kompleks, dia meniadakan semua pandangan umum yang membuatnya enggan untuk menggugurkan kandungannya.

Baca Juga :  Update Seputar Film Diseluruh Dunia

Ketabuan

Aborsi mungkin masih menjadi hal yang tabu di masyarakat. Musim gugur memilih opsi untuk menggugurkan rahim yang besar. Keputusan tersebut dalam hal-hal tertentu mungkin tidak dibenarkan oleh agama dan pandangan masyarakat umum. Sedangkan menurut UU Kesehatan, ada dua kondisi umum yang menyebabkan seseorang menggugurkan kandungannya: keadaan darurat medis dan korban perkosaan.

Untungnya, dalam film ini, Autumn menemukan rumah sakit yang memiliki fasilitas aborsi lengkap dan sangat memahami kondisi pasien. Dijelaskan, ia mendapat perawatan kesehatan yang layak. Sebuah kesempatan yang mungkin tidak didapatkan oleh semua wanita.

Selain itu, film ini menggambarkan siksaan para penyintas kekerasan seksual, seperti yang dirasakan Autumn. Salah satunya adalah adegan di mana dia memukuli perutnya hingga memar dan berharap akan keguguran. Dia juga memendam semua beban berat ini dari keluarganya yang digambarkan tidak mampu melindunginya.

Sementara itu, meskipun sorotan adegan tidak menghilangkan kekerasan yang dia alami, air mata yang tak terbendung dari mata Autumn ketika dia dengan susah payah berbagi pengalaman buruknya dengan dokter telah menyentuh kami dan juga menyakiti kami. Setelah itu, kita tidak bisa membayangkan kelanjutan hidup Autumn yang mungkin lebih mengerikan dari masa aborsi.

Akibatnya Never Rarely Kadang-kadang Selalu membawa protes terhadap kekerasan seksual yang sering dialami perempuan. Selain itu, melalui film ini, Eliza Hittman menyatakan bahwa perempuan memiliki hak penuh untuk melakukan aborsi sebagai salah satu hak tubuh mereka.

Baca juga: Potret Lady On Fire – Upaya Memahami Bersama

Pengarang : Anggino Tambunan
Redaktur: Muhammad Reza Fadillah